Tradisi dan Budaya Unik Nias yang Dilestarikan Turun Temurun
Tradisi dan Budaya Unik Nias yang Dilestarikan Turun Temurun – Nias merupakan wilayah kepulauan yang letaknya berada di sebelah barat Pulau Sumatera. Secara administratif, Pulau Nias termasuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara, penduduk asli Nias menyebut diri mereka Ono Niha yang berarti tanag manusia. Masyarakat Nias terkenal dengan upacara tradisional mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Upacara Kelahiran
Lahirnya seorang anak pada masyarakat Nias bagian selatan di sebut istilah ono famatohu na oto yang berarti penyambung keturunan bila anaknya laki-laki. Sedangkan jika anak lahir perempuan maka sebuatannya adalah ono famachai mbambato yang berarti anak pemerluas lingkaran kekeluargaan. terdapat peran yang sangat penting dari seorang imam atau dukun yang disebut dengan ere dalam proses kelahiran seorang anak. Selama masa kehamilan, ere membuat tiga patung yang di sebut adu. Patung ini terdiri dari dua patung laki-laki dan satu patung perempuan. Selama masa kehamilan, ibu dan ayah harus mematuhi sebuah peraturan yang di sebut amonita. Amonita terdiri dari larangan menyembelih babi, membunuh ayam, ular, ikan dan menjamah monyet, mendidihkan minyak, melewati kuburan dan aturan lainnya.
2. Upacara Perkawinan
Perkawinan di mulai dari tingkat pertunangan yang di prakarsai oleh orang tua pihak laki-laki. Setelah orang tua kedua belah pihak setuju, maka mereka akan mengusulkan agar anak laki-laki mereka di tunangkan dengan wanita impian sang anak. Hal ini menunjukkan bahwa bertunangan bukanlah urusan calon pengantin, melainkan orang tua kedua belah pihak. Dalam mengatur tunangan, orang tua pihak laki-laki akan menyuruh seorang wanita yang sudah di anggap tua untuk menyampaikan pesan kepada orang tua di pihak perempuan. Wanita yang bertugas sebagai penyampai pesan itu akan membawa sirih dan menyampaikannya pesan kepada orang tua si gadis. Jika orang tua gadis setuju maka akan di atur waktu untuk upacara pertunangan yang di sebut sebagai famatuasa.
Baca Juga : Fakta Menarik Jenis Bunga Serta Makna dan Artinya
3. Uparaca Kematian
Bila seseorang yang mati adalah kaum bangsawan maka gong dan tabur serta gendang akan di pukul. Jika tidak, maka lonceng akan di bunyikan sebagai pengumuman kepada masyarakat bahwa seseorang telah meninggal. Karena orang Nias memiliki ungkapan “Bila kamu datang kepada orang lain, maka orang lain akan datang kepadamu juga, tetapi jika kamu tidak peduli pada orang lain, maka orang lain juga tidak akan peduli kepadamu. Di saat kaum wanita menangis, kaum laki-laki akan mendengarkan fahoho yaitu musik tradisional yang memiliki melodi khusus. Akan di pentaskan beberapa jenis tarian jika yang meninggal dari kaum bangsawan seperti sitomanu, maluayam mamualo dan fetele.
4. Pesta Adat
Selain upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Ada dua pesta adat dalam skala besar yang sering di lakukan pada masyarakat yang menganut aliran animisme. Pesta kedudukan atau owasa yang bertujuan untuk memperoleh kehormatan, kedudukan serta gelar. Ataupun pesta boro nadu yaitu pesta yang di kaitkan dengan kejadian penciptaan dan terjadinya suku Nias. Seorang yang mengadakan pesta memamerkan kekayaan dalam bentuk barang-barang emas serta menghamburkan kekayaannya dalam bentuk babi yang berjumlah banyak.
5. Upacara Mata Pencaharian
Suku Nias mengenal tiga upacara yang di lakukan dalam pencaharian nafkah. Contohnya seperti upacara membuka hutan atau famohu tano. Kemudian Upacara permulaan mengetam atau fanekhe basito. Tujuan upacara ini adalah untuk memberitahukan pada dewa atau roh dan arwah keluarga bahwa mereka akan memanen padi, terutama kepada roh orang tua dan di laksanakan di rumah pemilik ladang sampai ke tempat tujuan.